<

Tanggal 7-10 Februari yang lalu, aku dan beberapa teman pergi ke Pulau Sempu, Jawa Timur. Sebelumnya seumur-umur aku belom pernah denger ada pulau di sebelah timur jawa yang namanya Sempu.

Rencana pergi ke pulau Sempu ini pertama aku denger dari Ratmi.
“Ni, Wulan nawarin backpack ke pulau Sempu. Mau ikut ngga?”
“Pulau Sempu? Dimana tuh mi?”
“Di Malang.”
“Hah? Malang bukannya di daerah pegunungan, kok ada pulaunya sih? Apa kayak samosir gitu?”
“Nggak, pulau sempu itu masuk ke kabupaten Malang , ke arah selatan dari kota Malang , langsung berhadapan dengan Samudra Indonesia lho.”
…and so on, and so on…

Diawali dari ajakan Wulan ke Ratmi, Ratmi lalu mengajakku. Wulan pun ternyata mengajak adiknya, Lintang. Lintang mengajak lagi dua temannya; Iman dan Kemal. Di saat-saat akhir, Ratmi “lagi-lagi” mengajak Atun dan Aqib. Dari ajak-mengajak yang bercabang-cabang ini akhirnya ada 8 orang yang disebut diatas setuju untuk ikut.

Masalahnya 8 orang ini domisilinya tersebar di 4 kota ; Ratmi, Atun, dan Iman di Jakarta. Aku dan Lintang di Bandung, Wulan dan Kemal di Jogja, terus Aqib di Semarang. Setelah diskusi dan ngeliat-liat peta, akhirnya diputuskan semua akan berkumpul di Turen.

Dan karena ngga tega ngeliat aku dan Lintang, yang dua-duanya cewek dan amatiran pula dalam soal backpack, Iman pun memilih untuk berangkat dari Bandung . Makasih ya Man, kami sangat terbantu sekali….
Semua komunikasi sebelum berangkat berlanjut lewat email, sms, dan telepon karena kami masing-masing sibuk dengan urusan kerjaan dan baru bisa ketemu pada hari-H, sesaat sebelum kereta berangkat! Via email, saran, tips, things to do, things to bring, where to meet, tersebar ke delapan orang diatas (benar-benar hebat jalannya komunikasi sekarang ini!).

Aku, Lintang, dan Iman berangkat naik KA. Mutiara Selatan dari Stasiun Bandung. Awalnya Lintang mau cari yang kelas ekonomi tapi nggak ada, akhirnya kelas bisnis pun jadilah, walau harga tiketnya 2 kali lebih mahal (awalnya aku dan Ratmi malah pengen naik eksekutif biar ngga terlalu capek, hehehe…masa backpacker naik eksekutif).

Hari senin tersebar kabar di kantor kalo ada SK dari MenPAN kalo libur bersama dibatalkan. WHAT?! H-2 sebelum ke Malang ? Tidak bisa ditolerir inih! Setelah tanya sana-sini ke temen-temen kantor (yang rata-rata pada misuh-misuh), ternyata ada beberapa yang pura-pura ngga tau kalo ada SK itu, hehehe… dan bakalan tetep berangkat keluar kota untuk ber-long weekend. Aku pun ikutan aja, hehehe… kan udah beli tiket dari jauh-jauh hari….

Rabu sore, 6 februari, pukul 15.30
Aku ijin pulang cepet dari kantor (Ijin? Wong para bos lagi rapat, gimana minta ijinnya? Lebih tepat kabur), karena KA Mutiara Selatan bakal berangkat jam 5 sore dan aku sama sekali ngga tau mukanya Lintang dan Iman kayak apa’an (just in case harus nyari-nyari dulu).
Pukul 16.22 aku sampe di stasiun Bandung , ternyata Lintang udah masuk gerbong. Aku pun nunggu dijemput Lintang di depan loket peron, dan naik ke gerbong, Lintang keliatan agak cemas. “Iman belom datang” katanya, “Tadi jam 4 masih di bus, busnya baru masuk Bandung .” Jamku menunjukkan angka 16.50.

Nggak lama setelah Lintang ngomong gitu, masuk telepon ke HP Lintang. Ternyata Iman udah sampe di stasiun dan lagi menuju gerbong. Ngga lama kemudian, masuk ke gerbong seorang cowok berambut ikal membawa ransel carrier berwarna biru sambil ngos-ngosan. Rupanya ini yang namanya Iman. Kesan pertamaku waktu lihat dia, “Hmm…mirip Andrea Hirata…” Pengarang tetralogi Laskar Pelangi itu. Dan ternyata Lintang juga berpikiran sama. “Mirip kan mbak, tapi cuma siluetnya aja, hehehe”, kata Lintang.
Bismillah, kereta pun berangkat. Mudah-mudahan aman selama perjalanan. KA. Mutiara Selatan ini tujuan akhirnya Surabaya, jadi berdasarkan peta yang dimiliki Lintang (Peta Mudik Telkomsel dan print-out dari website PT. KAI) kami memperkirakan kalau nanti harus turun di stasiun Kertosono (yang ternyata salah! Nantinya ini akan jadi cerita yang nyebelin sekaligus lucu).

Kamis dini hari, 7 februari 2008
Tidur sambil duduk tuh emang ngga enak, berjam-jam lagi, punggungku pegal. Keretanya berhenti hampir di setiap stasiun, dan itu jadi ajang mengais rejeki buat para pedagang. Mereka berduyun-duyun naik ke kereta dan menawarkan berbagai dagangannya; ada brem, air mineral, minuman ringan, lontong tahu, kipas angin, game watch, nasi rames, kopi panas, macem-macem deh! Murah-murah lagi, bahkan ada yang bisa ditawar.

Kata Lintang, ini namanya in train shopping, hehehe. Kayak delivery service tapi ngga perlu mesen, cukup tunggu, ntar juga pedagangnya dateng.

Malu juga aku, baru beberapa jam duduk di kereta udah mengeluh pegel, sementara mereka seharian menggotong barang dagangannya, menawarkan pada para penumpang dari gerbong ke gerbong, dari kereta ke kereta.

Pas setelah azan shubuh berkumandang, kereta sampe di stasiun Kertosono. Disana kami re-packing barang-barang yang ada didalam tas. Yang berat-berat dibebankan ke Iman, kan kamu satu-satunya cowok di tim Bandung , Man. Berbesar hatilah, hehehe.

Keluar dari Stasiun Kertosono, kami ditawari naik becak oleh beberapa penarik becak, bahkan ada yang udah nawarin sejak kami turun dari kereta. Lagi re-packing aja ditungguin sama dia! Dia ngejelasin cara-cara untuk sampai ke Turen, karena kami bertiga bener-bener buta arah dari Kertosono menuju Malang. Tukang becak satu ini pun akhirnya berhasil membuat kami naik ke becaknya, sementara Iman dan barang-barang di becak satu lagi dengan tarif Rp. 10.000/becak.

Kami diturunin di perempatan in the middle of nowhere (awalnya aku pikir kami bakal diturunin di terminal bus manaa gitu), kata tukang becaknya nanti ada bus yang menuju Kediri, dan dari Kediri kami bisa naik bus yang ke Malang. Lalu dia pun ngeloyor ninggalin kami di tepi jalan.

Nggak lama nunggu, Lintang nanya ke seorang mbak-mbak yang lagi duduk di depan rumah makan deket tempat kami menunggu. Tau nggak cewek itu bilang apa? Kalo mo ke Kediri mestinya jangan nunggu di tempat itu, tapi di jalan yang lain, di sebelah sana katanya sambil menunjuk arah lain dari perempatan yang lengang itu.

Woalaah…! Dibo’ongin tukang becak, bocah gemblung! Pokoknya jangan percaya sama tukang becak Kertosono! Itu pelajaran moral no.12!

Kami pun naik bus pertama yang lewat. Setelah di dalam bus, Lintang tanya-tanya arah ke kondektur dan supir, kami baru tau ternyata kami salah naik, kuperhatikan jalan, kami di daerah Kediri. Tak berapa lama kami turun di daerah Tulungagung dan naik bus menuju Blitar. Sebenarnya itu jalur memutar ke Malang/Turen, tapi apa boleh buat, udah kadung jauh.

Di bus, perut yang udah terasa lapar sejak turun di stasiun Kertosono cuma bisa diganjel dengan jeruk dan muffin, cuma itu yang tersisa dari tas kudapan. Turun di terminal Blitar, kami naik bus menuju terminal Gadang. Dari Gadang ganti bus lagi menuju Dampit (yang akan melewati Turen). Bener-bener deh, sepagian cuma pindah dari satu bus ke bus yang lain.

Padahal kalo saja kami turun di stasiun Jombang (hanya satu stasiun setelah Kertosono), kami bisa langsung naik bus ke Malang. Apa daya, namanya juga buta arah (dan dibo’ongin tukang becak!).

Bus berhenti di depan pasar Turen, kami turun disitu karena sebenarnya Turen tidak punya terminal. Angkot-angkot, bus-bus, besar dan kecil, semuanya berhenti dan ngetem disitu, jadi seperti terminal bayangan.

Begitu turun dari bus, langsung terlihat rombongan wajah-wajah yang kami kenal sedang duduk-duduk di emperan trotoar di depan toko. Tim dari Jakarta, Semarang, dan Jogja ternyata udah datang lebih dulu. Ada Ratmi, Atun, Wulan, Kemal, dan Aqib. Dengan datangnya Tim Bandung ini berarti lengkap sudah jumlahnya dan hal yang harus dilakukan lebih dulu adalah re-packing (lagi) dan melengkapi logistik. Tak disangka Ratmi bawa logistik yang banyak (banget!). Sampe-sampe dia bawa satu plastik besar berisi konsumsi, dan 1 travel bag yang isinya barang-barang pribadi! (”Mau trekking atau piknik Mi?”).

Kami pun berbagi tugas; ada yang membeli air mineral (karena di pulau Sempu, air tawar termasuk langka, jadi masing-masing orang dijatah 3 liter), obat-obatan, beras, dan spiritus. Wulan dan Kemal bertugas mencari kendaraan menuju Sendang Biru.

Hasil repacking bener-bener merugikan pihak cowok, carrier-nya jadi berat-berat banget! Toh kalian sudah terlatih, wong sering ndaki gunung kan? Kekekek….

Logistik sudah lengkap, angkutan sudah ada dengan tarif Rp. 10.000/orang, sebangsa L-300. Kami siap berangkat menuju Sendang Biru untuk kemudian menyeberang ke Pulau Sempu.

Ternyata perjalanan menuju Sendang Biru membuat sebagian tim cewek mabuk kendaraan. Kondisi jalan yang naik turun dan berliku-liku seperti mengaduk-aduk perut kami. Dan perjalanan seperti itu harus dilalui selama 2 jam. Untuk mengalihkan perhatian dari rasa mual, kami tim cewek pun mulai mengeluarkan permainan yang aneh (dan kekanak-kanakan, hehehe). Tebak-tebakan judul film! Iman dan Kemal geleng-geleng kepala melihat kelakuan kami. Cuek aja! Mereka juga pastinya ngga mau kan kalo ada yang muntah-muntah di mobil….

Kendaraan yang kupikir disewa hanya untuk rombongan kami saja ternyata mulai menaikkan penumpang secara membabi buta, overload! Kapasitas 10 orang, ini bisa sampai 20 orang! Ternyata di jalan Turen-Sendang Biru hanya mobil seperti ini yang jadi sarana angkot bagi penduduk yang mau bepergian.

Pukul 3 sore lebih sedikit, setelah 2 jam perjalanan yang berlika-liku, naik-turun, berdempet-dempetan, kami pun tiba di Pantai Sendang Biru. Lintang dan Ratmi pergi mendaftarkan rombongan kami ke pos penjaga cagar alam Pulau Sempu, kalau ada yang mau menyeberang kesana memang harus mendaftar dulu serta membayar biaya registrasi (yang bisa ditawar. Aneh…) sebesar Rp. 25.000. Wulan, Iman, dan Kemal pergi beli ikan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan). Aku dan Atun, para penderita mabok kendaraan paling parah, hanya bisa duduk bersenderkan pohon sambil menghirup aroma minyak angin, sambil menjaga tas-tas kami, sementara anggota tim yang lain pergi.

Pic_0099_1

Pic_0102

Di tepi pantai terparkir deretan perahu-perahu nelayan dan langsung terlihat Pulau Sempu yang hanya berjarak 200-300 meter dari Sendang Biru. Kalau tidak mau menyewa perahu untuk menyeberang, sepertinya pulau itu bisa dicapai hanya dengan berenang kok, tentu saja dengan daya tahan tubuh yang kuat, kalau nggak bisa-bisa megap-megap kehabisan nafas di tengah jalan.

Kami menyewa perahu untuk menyeberangkan kami ke Pulau Sempu, sebesar Rp. 75.000, nggak mau turun lagi, mungkin karena sedang musim liburan. Dari Sendang Biru ke Pulau Sempu hanya butuh waktu 5-10 menit, dekat sekali kan.

Di Sempu, kami berlabuh di Pantai Waru-waru. Subhanallah, pantainya berpasir putih, airnya jerniiihh… sekali, kami bisa melihat bayi-bayi ikan yang berenang berombongan, dan sepiii, seperti private beach hanya milik kami saja. Lautnya pun hanya sesekali dilewati perahu pengantar turis atau kano. Tapi sepi ini, sayang sekali, tidak bertahan lama. Ada segerombolan ABG yang datang untuk berwisata dan berenang di Waru-waru. Mereka berisik!

Pic_0119

Selesai main air, foto-foto (ada pohon yang jadi saksi bisu noraknya kami), sholat ashar, kami melanjutkan perjalanan menuju telaga lele.

Ternyata jalan menuju telaga lele tidak seberat yang kukira. I mean, aku pernah ngalamin yang lebih terjal, berbatu, pepohonan yang lebih rapat, tanah yang lebih rapuh tak berdaya (mulai ngaco…). Menuju Telaga Lele ada track-nya, berbatu-batu yang tajem-tajem! Jadi kalo mau kesana, pakai alas kaki yang solnya tebel! Track-nya kadang-kadang terhalang oleh pepohonan yang rubuh, jadi kami harus memutar atau melompati pohon-pohon yang malang melintang itu. Alhamdulillah track lanjutannya dengan mudah ditemukan kembali.
Saat matahari mulai tenggelam, kami masih di tengah hutan. Beberapa orang di barisan belakang (Kemal, Wulan, Lintang, dan aku) sempat mendengar geraman hewan, entah hewan apa, sepertinya sih karnivora. Berdasarkan informasi yang diperoleh, di pulau Sempu itu ada babi hutan dan (mungkin) macan, Hieee…..!! Awalnya aku tak yakin, mungkin salah dengar, tapi geraman itu terulang sampai 3 kali. Kemal yang paling belakang pun bernyanyi dengan suara keras. Maksudnya untuk menakut-nakuti hewan tersebut dan menghilangkan rasa takut (Gitu kan, Kemal?). Aku ikutan nyanyi, sambil mikir kalau-kalau diserang, aku punya senjata apa ya…? Barisan depan (Aqib, Ratmi, Atun, dan Iman) terlihat santai-santai saja. Sepertinya mereka nggak dengar apa-apa.

Perjalanan menuju telaga lele berlangsung selama 1,5 jam. Begitu sampai disana, pemandangan yang terlihat membuatku berpikir, ”Hee…? Cuma begini aja…?”.
Pic_0147_3

Yang datang ke telaga lele bukan hanya tim kami, sebelumnya sudah ada rombongan mahasiswa dari unibraw (kayaknya…). Mereka sudah 10 hari ada disana, sedang melakukan penelitian entah tentang apa.

Anyway kami pun sibuk membangun tenda yang dibawa Lintang, model dome gitu. Matahari sudah benar-benar terbenam saat tendanya berdiri. Senter-senter dan headlamp segera menyala. Beberapa orang mulai membuat api menggunakan parafin. Nantinya dipakai untuk memasak; ada telur (yang sudah pecah saat di Turen dan Atun berbuat yang tidak berperi ke-telur-an!), mixed vegetables yang jadi ”sayur asem” dan sarden kalengan. Kompor portable juga dinyalakan untuk masak nasi. Nggak lama kami sudah siap untuk makan malam, dengan ditemani lilin dan senter. Ada nasi, telur orak-arik ala Atun, sarden kalengan, dan ”sayur asem”, seadanya banget tapi enak! Mungkin karena semuanya memang sedang lapar, nggak ada yang protes!

Setelah perut terisi, kami pun mulai mengobrol. Bahkan Atun sempat curhat mengenai seorang anak didiknya pada dua orang psikolog (Iman dan Kemal) yang ternyata ditinggal tidur oleh Kemal! Hyaah…Psikolog macam apa kau, Kemal! Kasihan Atun, udah cerita panjang lebar…. Untung masih ada psikolog Iman yang mau mendengarkan.

Selain makan malam, kami juga membakar ikan Bulu Ayam yang dibeli di TPI tadi. Sebungkus garam yang dibawa Atun untuk ditabur di sekeliling tenda malah dipakai untuk membumbui ikan, juga air jahe yang dibuat Kemal. Jadilah ikan Bulu Ayam Bakar rasa Asin-Pedas. Ternyata enak! Kalau saja didampingi sambel kecap, mak nyuss… deh itu.

Melihat api unggun masih menyala, Wulan pun mengeluarkan sosis. ”Yuk kita bakar sosis.” Yeah! Ide bagus! Kami memang nggak ada kenyang-kenyangnya!

Obrolan di bawah langit malam pun dilanjutkan sambil menggerogoti ikan dan sosis bakar. Bahkan sampai ada adu rayuan gombal segala, hihihi….

Karena langit mulai mendung, di depan tenda dipasang terpal untuk tempat berteduh para ikhwan yang tidur di luar. Just in case hujan turun.

Aku mulai merindukan mandi dan sikat gigi.

Lambat-laun suara obrolan makin menghilang, kami nggak tahu tidur jam berapa malam itu.

Jum’at, 9 Februari 2008

Aku terbangun, punggungku sakit. Kulihat Ratmi sudah bangun lebih dulu, entah pukul berapa (HP kumatikan, tidak ada sinyal di pulau Sempu), saat kuintip keluar langit sudah membiru, yang lain masih terlelap. Project ”Wake up, it’s morning!” pun langsung bekerja. Semuanya panik, telat sholat subuh!
Sementara yang lain sholat subuh berjama’ah, aku dan Atun menyalakan api untuk memasak air dan sarapan. Menu pagi ini: nasi, mi instan, sosis goreng, dan susu coklat/kopi susu.
Setelah itu tenda dibongkar, carrier-carrier di-repack, sampah-sampah plastik dan anorganik dimasukkan kedalam plastik kresek besar untuk dibawa kembali ke Sendang Biru, kita kan tidak boleh merusak alam….

Pukul 08.30.
Sesuai rencana tim kami berpisah jalan; aku, Ratmi, Atun, dan Aqib akan kembali ke Pantai Waru-waru untuk naik kapal ke Semut, akses terdekat menuju Segara Anakan, sementara Lintang, Wulan, Iman, dan Kemal meneruskan perjalanan melalui hutan menuju Telaga Saat dan berujung di Segara Anakan juga. Perjalanan melalui hutan itu akan memakan waktu 5-6 jam. Itu yang membuat kami, tim amatir, menyerah. Perjalanan 1,5 jam dari Waru-waru ke Telaga Lele saja sudah ngos-ngosan, apalagi 5 jam! We’ll better choose the shorter way. Meet you guyz in Segara Anakan!

Tim Amatir pun kembali menyusuri track saat datang kemarin sore. Sayang saat sudah dekat sekali dengan Pantai Waru-waru kaki kananku terkilir yang menyebabkan perjalanan kami terhambat. Benar-benar membuatku merasa bersalah pada Ratmi, Wulan, dan Aqib. Memang sih mereka bilang kalau mereka sebenarnya sudah puas dengan bermain di private beach Waru-waru, bahkan nggak mau lagi melanjutkan trekking ke Segara Anakan, karena sudah capek dan tergoda dengan indahnya pantai pasir putih itu. Tapi aku tetap merasa bersalah, kakiku yang terkilir tidak mampu untuk trekking di hutan, takutnya malah tambah parah dan dalam hutan bantuan akan semakin sulit didapat.

Kami pun berenang, main air, dan berfoto sepuasnya di Pantai Waru-waru, kali ini pantainya benar-benar seperti private beach, sepiii bangett…. Aku pun sempat melihat seekor biawak besar melintas di antara pepohonan di tepi pantai.
Pic_0154_2

Puas bermain air, pukul 12.30 kami memutuskan untuk kembali ke Pantai Sendang Biru. Kami menelepon pemilik perahu minta dijemput (keren ya, kalo di Jakarta seperti memesan taksi), ternyata orangnya sedang sholat jum’at, jadi kami hanya bisa menitip pesan. Selang setengah jam gerimis turun rintik-rintik, bersamaan dengan datangnya perahu pesanan kami, tergopoh-gopoh kami segera menaikkan barang-barang ke dalam perahu. Sebelum kembali ke Sendang Biru, perahu membawa kami mendekati Pantai Semut, letaknya sudah dekat sekali dengan Samudra Indonesia, kami bisa melihat kontrasnya ombak yang menampar-nampar di bagian pulau yang langsung menghadap samudra dengan Sendang Biru yang lautnya sangat tenang.

Begitu berlabuh di Sendang Biru, yang kami incar tentu saja kamar mandi! Saat itu air tawar bersih benar-benar anugerah terindah yang pernah kumiliki…. Alhamdulillah di Pantai SendangBiru ada 4 kamar mandi umum, walaupun seadanya, yang penting ada air bersih!

Tak disangka, bapak pemilik kapal memanggilkan angkot untuk kami kembali ke Turen, dan seperti perjalanan berangkat kemarin, lagi-lagi angkot ini memuat penumpang yang overload selama perjalanan ke Turen.
Sesuai rencana, kami akan berjalan-jalan ke Batu, menginap semalam disana, lalu kembali ke Malang lagi, langsung ke Stasiun untuk kembali ke Jakarta.

Dari Turen kami naik bus menuju Terminal Gadang. Dari Gadang lanjut ke Terminal Arjosari dengan angkot. Saat turun dari bus di Gadang, kami mendapat telepon dari Lintang kalau tim di Sempu saat itu sedang nyasar di tengah hutan. Karena di tengah hutan tidak ada sinyal, Lintang harus naik ke titik tertinggi Sempu untuk mendapatkan sinyal, dan bisa menelepon. Wah, saat itu kami pun ikutan panik tapi tidak bisa melakukan apa-apa. Satu-satunya yang menenangkan kami adalah Wulan, Iman, dan Kemal adalah anak gunung sejati, mereka pasti lebih tahu apa yang harus dilakukan pada situasi seperti itu. Lintang pasti baik-baik saja bersama mereka. Akhirnya kami berencana kalau besok pagi tidak ada kabar lagi dari tim di Sempu, kami akan melapor ke penjaga cagar alam Sempu. Kami pun melanjutkan perjalanan ke Batu dengan angkot dari Gadang menuju Arjosari.

Pukul 18.00
Di angkot ini kami bertemu seorang gadis dan mendapat informasi tentang Batu darinya. Ia menyarankan kami naik bus Malang-Blitar dari terminal Arjosari dan minta diturunkan di Balai Desa Songgoriti. Di sekitar balai desa ada banyak penginapan-penginapan murah untuk para backpacker seperti kami.

Begitu masuk Batu, hujan turun dengan deras. Kami turun di Balai Desa Songgoriti dan berteduh di warung makan sambil bersiap-siap dengan raincoat. Disana juga berteduh seorang tukang ojek yang begitu tahu kalau kami sedang mencari penginapan, dengan semangat 45 langsung menawarkan jasanya. Katanya dia tahu penginapan yang murah dan tidak mesum seperti yang ada di daerah sekitar situ. Aqib pun ikut tukang ojek itu untuk melihat penginapan yang disarankannya.

Aku dan Atun berusaha mencari penginapan lain di sekitar Balai Desa. Dari 2 penginapan yang kami lihat, nggak terkesan mesum kok, suram malah, rumah lama gitu, dan harganya paling murah Rp. 40.000 atau lebih per malam.

Ternyata Aqib sudah setuju untuk menginap di penginapan yang ditunjukkan si tukang ojek. Kami pun menuju kesana yang ternyata cukup jauh dari Balai Desa Songgoriti, sekitar 1 km, di Gang Anggur, Kawasan Wisata Songgoriti, harganya Rp 100.000/malam. Dan saat masuk kedalam penginapannya, aku baru sadar justru penginapan inilah yang terkesan lebih mesum daripada penginapan-penginapan di dekat balai desa tadi. Bentuknya seperti rumah, terdiri dari 2 kamar tidur plus 1 kamar tidur di depan rumah (disewakan terpisah), ruang tv, dan dapur. Masing-masing kamar ada kamar mandinya. Yang paling memberi kesan mesum: di tiap kamar tidur ada cermin besar sepanjang tempat tidur di satu sisi dinding. Dipasang nggak sejajar dengan muka, tapi sejajar dengan permukaan kasur. Ditambah lagi kamar di depan itu disewakan pada sepasang muda-mudi, padahal tempat tidurnya single bed (sempet lihat waktu si cowok itu buka pintu kamar), dan mereka check out subuh-subuh pagi berikutnya. Kurang mesum apa coba! (BTW qib, pas malem-malem denger suara-suara ngga?). Apa boleh buat, hari sudah malam, kami pun mengambil tempat ini untuk menginap.

Batu merupakan daerah pegunungan, sentra perkebunan apel. Nggak heran kalau malam sudah larut apalagi hujan turun dengan deras, suhu udara bisa langsung drop. Seperti malam itu, kuperkirakan suhunya sampai 15-16°C. Walaupun sudah jam 9 malam, hujan turun dengan deras, dan angin berhembus kencang, tapi karena perut kami semua lapar, kami pun keluar dari penginapan mencari warung makan. Yang melindungi tubuh dari dinginnya udara dan hujan hanya jaket tipis dan raincoat. Kami berjalan ke arah atas, sambil berjalan kami mengamati kalau daerah Ronggositi ini banyak disewa oleh para bikers, sepeda-sepeda mereka terpajang dengan manisnya di depan penginapan. Ternyata esok hari memang ada event bikers, Batu Downhill. Seorang teman kantorku juga ikut acara itu, kutelepon dia tapi nggak diangkat, mungkin sedang tidur.

Setelah berjalan sekitar 150 meter dari penginapan, kami menemukan warung makan yang lumayan layak,nggak terkena tiupan angin kencang. Kami pun makan disana. Nasi dan capcay panas yang kupesan rasanya luar biasa sekali di hari sedingin itu.

Dalam perjalanan dari Malang ke Batu, beberapa kali Ratmi mempertimbangkan untuk menelepon Lintang yang masih di Sempu, tapi karena khawatir HP Lintang akan kehabisan batere, kami pun menahan diri untuk tidak menelepon mereka. Saat makan malam, Lintang menelepon lagi, mereka hanya berpindah 100 meter dari tempat Lintang menelepon tadi, dan memutuskan untuk bermalam disana saja. Pasti mereka sudah lelah fisik dan psikis. Kami hanya bisa berdoa supaya mereka baik-baik saja.

Sehabis makan malam kami kembali ke penginapan. Malam itu (lagi-lagi) aku, Ratmi, dan Atun sekamar. Kami membongkar tas untuk mencari baju bersih, dan apa yang terjadi saat tas-tas dibuka? Oh my God, bau ikan asin langsung menguar mencemari kamar kami. Sepertinya bau itu dari pakaian yang basah oleh air laut dan langsung dibungkus dalam tas.

Kalau waktu di Sempu, kami sangat merindukan kamar mandi dan air bersih. Di Batu, kami malah menghindari dua hal itu, dingiinnn bangeeet….!

Sabtu, 10 Februari 2008

Pukul 05.45.
Aku lagi-lagi terbangun dengan punggung yang agak pegal, dan kaki yang sakit (bagian yang terkilir kemarin mulai bengkak, mungkin karena banyak berjalan). Ratmi sudah bangun duluan, dia baru saja selesai sholat subuh di ruang tv dan misuh-misuh karena sepasang muda-mudi yang menyewa kamar depan minta izin check-out padanya (”Subuh-subuh gini check-out ni, ngapain coba?”), mungkin dia juga tersinggung karena disangka sebagai ibu-ibu yang punya penginapan).

Pukul 06.30.
Kami keluar dari penginapan untuk mencari sarapan sekalian jalan-jalan ke Kusuma agrowisata. Perjalanan ke jalur angkot ini lumayan jauh, dan gerimis turun, sesekali bertambah deras. Raincoat dan jaket selalu berguna di Batu.

Setelah sarapan kami berangkat ke Agrowisata Kusuma dengan angkot, beruntung angkotnya mau disewa sampai ke agrowisata. Bahkan sampai ke pintu masuk agrowisatanya. Namun kami terpana saat melihat harga tiket di loket agrowisata Kusuma. Masa yang paling murah Rp 24.000/orang?!! Mahal banget! Setelah masuk ke dalam semakin terasa kalau harga segitu itu nggak worth it. Paket 24.000 itu cuma dapat welcome drink, jus apel, boleh memetik 2 buah apel/jeruk, dan tentu saja keliling-keliling kebunnya agrowisata Kusuma (kira-kira sama dengan jalan kaki 1 km kali ya).

Memang lanskapnya sangat indah, magnificent! Kebun apel dan jeruk dilatarbelakangi sebuah gunung yang senantiasa berkabut. Tapi dingin-dingin begitu, welcome drink yang disuguhkan berupa jus jeruk yang baru keluar dari kulkas, jus apel yang didapat juga diblender dengan es, dan apel yang boleh dipetik hanya 2. Sayangnya (mungkin karena aku yang tidak bisa memilih) apel yang kupetik malah nggak ada yang enak (saat sampai di rumah, Elron memakannya, hanya 1 gigitan lalu apelnya langsung dilempar ke lantai, duuh…).

Pic_0226

Yang cukup menghibur, ternyata selain kebun apel dan jeruk, Kusuma Agrowisata itu juga punya rumah kebun yang cantik sekali, bunga-bunganya bermekaran dengan warna yang beraneka ragam. Sebenarnya aku mau membeli satu pot, tapi bawa pulangnya susah. Mereka juga memelihara beberapa spesies hewan; ada kasuari, monyet, elang, kalong, beberapa jenis ayam, dll.

Dari agrowisata kami segera kembali ke penginapan dan bebersih diri, kan tadi waktu berangkat kami belum mandi, yang penting nggak ketauan, hehehe….

Pukul 10.30
Kami check-out dari penginapan, mengambil jalur yang sama seperti saat berangkat dari Malang menuju Batu. Hanya saja bus yang kami tumpangi benar-benar penuh! Jadilah kami harus berdiri sambil menyender di pintu bus, belum lagi bawaan kami yang besar-besar dan berat, mungkin harusnya kami bayar untuk 1 orang lagi ya, saking barang-barang itu makan tempat.

Dari Terminal Arjosari kami pindah angkot lagi yang menuju Stasiun Malang. Pukul 13.00, kami sampai di Stasiun Malang dan langsung mengantri tiket untuk KA. Matarmaja pukul 13.50. Tepat jam segitu kereta berangkat, kami pun meninggalkan Malang. Pukul 23.35 Aqib turun di Semarang yang sedang banjir akibat rob + hujan. Kami bertiga melanjutkan perjalanan berjam-jam di Matarmaja menuju Pasar Senen.

Ahad, pukul 09.30
Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Senen, walaupun telat sejam lebih dari waktu yang dijadwalkan. Ayahnya Atun sudah menunggu kami disana. Kami pun diantar pulang ke rumah masing-masing.

February 25th, 2008 at 12:32 am


4 Responses to “Road to Sempu, Let’s go Backpacker!!”
  1. 1
      WiKanTi says:

    haiy sean!
    blognya gw link ke blog gw ya..
    hope it’s okay.. :)

  2. 2
      Noka says:

    seru, seru! :) kapan2 gw ikutan dongg, hehe…

  3. 3
      Aphiet says:

    haloo..salam kenal nama saya aphiet di bandung…gue pengen banget liburan ke malang sekalian hunting foto…perlu informasi dari kalian donk esp tentang pulau sempu…kalian di bandung kan…? bisa kontak telfon gak..?

    -aphiet-
    08112201186

  4. 4
      ittaufani says:

    wiii, aq rncanany mo ke sendang biru dr kota trcinta Surabaya liburan hr rya ni.tp kykny asik jg ya klo diterusin k sempu. doain sukses!