<

Kemarin, usai istirahat siang aku dikejutkan oleh kabar yang dibawa oleh seorang teman kantorku.

"Sean, kemaren Pak Otto meninggal."

"Hah?! Otto mana?"

"Pak Otto Soemarwoto, yang pecinta lingkungan itu… Tadi malem katanya, dari hari senen udah di RS."

Aku benar-benar kaget mendengar kabar duka itu. Ingatanku langsung melayang ke saat aku menghadiri seminar di Puslitbang Geologi Kelautan.

Saat itulah pertama dan ternyata terakhir kalinya aku bertemu langsung dengan almarhum. Beliau datang sebagai salah seorang narasumber. Jujur saja, aku tertarik datang ke seminar ini karena di dalam brosur seminar tercantum namanya. Sudah sering kubaca kolom dan tulisannya di berbagai media cetak, tapi belum pernah kutemui langsung sosok seorang Otto Soemarwoto.

Aku mengagumi idealismenya sebagai seorang enviromentalist dalam membela lingkungan hidup. Dari tutur kata dalam tulisan-tulisannya, tersirat bahwa beliau adalah orang yang sederhana dan rendah hati. Beliau menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh orang awam, padahal siapa yang tidak kenal nama Otto Soemarwoto, lulusan UGM, seorang guru besar emeritus dari Unpad. Namun beliau bertutur dan menulis dengan kata-kata yang ringan dan sederhana.

Penampilannya pun begitu membumi. Saat seminar itu beliau memilih menggunakan batik daripada kemeja, jas, dan dasi, menyiratkan kecintaannya pada budaya negeri sendiri. 

Namun yang paling kuingat adalah ucapannya yang tegas dan bersemangat saat mengingatkan pada seluruh peserta seminar bahwa "Bangsa Indonesia dapat kembali menjadi bangsa yang berjaya kalau orientasi pembangunan diarahkan pada laut". Keadaan Indonesia seperti sekarang ini karena saat ini kita menjadi "Bangsa daratan di negara bahari".

Beliau pun mengingatkan kembali bahwa bangsa kita pernah menjadi kerajaan besar saat dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Karena kerajaan tersebut berorientasi pada lautan, maka mereka bisa menguasai lautan dan menjadi bangsa yang besar dan jaya.

Kata-kata dan semangat beliau sangat membekas di hatiku.

Saat seminar selesai, aku memberanikan diri memintanya untuk bersedia berfoto bersamaku. Sambil terkekeh beliau mengatakan kalau beliau bukan selebritis, namun aku meminta lagi dan ternyata beliau mengabulkan.

Bareng_pak_otto_soemarwoto_3Tak disangka, aku tak kan pernah lagi melihat sosok sederhana itu dan membaca tulisannya di media cetak.

Selamat jalan Pak Otto, semoga engkau diterima di sisi-Nya, dan semoga masih ada pemuda-pemudi Indonesia yang akan meneruskan langkahmu.

April 3rd, 2008 at 1:28 am


One Response to “Pak Otto Soemarwoto”
  1. 1
      atut says:

    Profesor Otto ini kalo ga salah, pernah aku lihat di TV waktu penjelajahan Gua di gunungkidul beberapa waktu lalu, bener ga sih?